
Era 1990-an menyimpan banyak kenangan manis bagi industri musik Indonesia. Di tengah gempuran musik pop yang mendominasi, sebuah gelombang baru muncul dari bawah tanah (underground)
yang membawa semangat berbeda: rock alternatif. Ledakan grunge dari Seattle yang dipelopori Nirvana menginspirasi musisi Tanah Air, sementara gerakan indie mulai mengakar di kota-kota besar. Band-band di Indonesia pun berani bermain dengan suara yang lebih kasar, menulis lirik yang lebih personal, dan mengusung semangat kemandirian yang tinggi.
Selain itu, jika kita menengok ke belakang, banyak nama telah menjadi ikon dan pionir dalam genre ini. Oleh karena itu, mari kita bernostalgia dan mengenali mereka satu per satu.
1. PAS Band: Pionir Gerakan Indie di Bandung
PAS Band muncul sebagai salah satu band paling berpengaruh dalam mempopulerkan gerakan indie di Indonesia. Tidak seperti kebanyakan band lain yang langsung bergabung dengan label besar, PAS Band memilih jalur mandiri. Pada tahun 1993, mereka merilis mini album berjudul “Four Through The SAP” secara independen. Hasilnya, album ini terjual sekitar 5.000 hingga 10.000 kopi dalam waktu singkat—sebuah pencapaian luar biasa pada masanya.
Selain itu, kesuksesan ini membuka mata banyak musisi bahwa jalur independen menawarkan peluang nyata. Lebih jauh lagi, PAS Band menginspirasi lahirnya banyak band indie lain di Bandung dan seluruh Indonesia. Dengan demikian, mereka membuktikan bahwa kualitas musik dan semangat kemandirian jauh lebih penting daripada sekadar dukungan label besar.
2. Pure Saturday: Eksperimen Musik Alternatif
Masih dari Bandung, Pure Saturday lahir dari skena indie dan menjadi salah satu nama penting pada masanya. Bahkan, banyak pihak menyebut Pure Saturday sebagai salah satu pelopor musik alternatif di Indonesia, bersama dengan PAS Band dan Puppen. Pada tahun 1995, mereka merilis album self-titled secara independen, dengan majalah Hai turut membantu promosi mereka.
Sebab itu, nama Pure Saturday selalu melekat dengan gerakan musik alternatif dan indie yang berkembang pesat di Bandung pada dekade 90-an. Di samping itu, eksperimen musikalitas mereka yang khas menjadikan mereka salah satu band yang berani keluar dari pakem arus utama.
3. Puppen: Legenda Hardcore dari Bandung
Di sisi lain, Puppen menjelma menjadi legenda hardcore di skena bawah tanah Bandung. Faktanya, kehadiran mereka sangat penting dalam mewarnai keberagaman musik alternatif di era 90-an. Selanjutnya, vokalis mereka, Arian 13, kemudian mendirikan band Seringai dan menjadi salah satu figur penting dalam skena musik Tanah Air.
Mengikuti jejak PAS Band, Puppen merilis mini album “Not A Pup E.P.” pada tahun 1995. Di samping itu, mereka sering tampil di GOR Saparua, tempat yang menjadi ajang berkumpulnya komunitas musik bawah tanah kala itu.
4. Cherry Bombshell: Pionir Indie Pop
Sementara itu, Cherry Bombshell hadir sebagai pionir indie pop di Bandung. Seperti band-band indie lainnya, mereka memilih jalur independen pada era 90-an. Untuk memasarkan album demo, mereka mengandalkan strategi “dari tangan ke tangan” dan menitipkannya di beberapa studio musik.
Hasilnya, strategi pemasaran ini terbukti berhasil, dengan demo mereka terjual lebih dari 500 keping. Tidak hanya itu, Ajie Gergaji, gitaris band ini, kemudian juga dikenal bersama bandnya, The Milo. Dengan demikian, Cherry Bombshell membuktikan bahwa jalur independen bisa efektif jika dijalani dengan konsisten.
5. Netral / NTRL: Personifikasi “Alternatif” Itu Sendiri
Beralih ke rock alternatif Indonesia era 90-an, rasanya kurang lengkap tanpa menyebut Netral (yang kini dikenal sebagai NTRL). Pada awalnya, band yang terbentuk pada November 1992 ini kerap dianggap sebagai salah satu pelopor genre ini. Terlebih lagi, mereka sering membawakan lagu-lagu dari band luar seperti Nirvana, Sonic Youth, hingga The Cure.
Kemudian, video klip lagu “Wa..lah!!” yang diputar di MTV Indonesia melambungkan nama mereka—sebuah pencapaian besar di masa itu. Selain itu, Netral berani memadukan unsur punk dan rock dengan lirik yang sering kali random, cerdas, dan “nakal”. Oleh karena itu, ciri khas ini menjadi pembeda mereka di tengah arus utama musik pop saat itu.
6. Kubik: Menembus Dominasi dengan Vokal Perempuan
Di tengah dominasi band-band dengan vokalis pria, Kubik hadir sebagai angin segar. Pada tahun 1995, band ini mengusung vokalis perempuan, Lusi Mersiana, yang memberikan warna tersendiri pada aliran alternatif rock. Menariknya, album debut mereka pada 1997 terjual sekitar 45.000 kopi—angka yang sangat impresif untuk band baru di kala itu.
Selanjutnya, lagu hits mereka, “M.A.T.E.L” (Mungkin Aku Tiba Esok Lusa), menjadi lagu wajib dan membuka jalan bagi band-band dengan vokalis perempuan lainnya seperti Cokelat. Dengan demikian, Kubik membuktikan bahwa kualitas musik dan keberanian bereksperimen lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
7. /rif: Perpaduan Sempurna Melodi dan Enerji
Meskipun terbentuk pada tahun 1995, /rif (atau sering ditulis RIF) dengan cepat menjadi salah satu band alternatif paling digandrungi. Sebagai informasi, mereka berasal dari Bandung, kota yang memang subur melahirkan musisi indie. Selain itu, /rif mempopulerkan lagu-lagu seperti “Radja” dan “Bunga”.
Yang lebih menarik, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan lagu “Bunga” sebagai salah satu lagu terbaik sepanjang masa. Di samping itu, gaya bermusik mereka yang enerjik, dipadukan dengan lirik yang puitis dan vokal khas Andy, menjembatani antara musik bawah tanah dan industri rekaman arus utama.
8. Wong: Sukses Lewat Jalur Kompilasi
Berbeda dengan band-band sebelumnya, Wong memulai perjalanan dari jalur kompilasi. Berasal dari Bandung dan terbentuk pada 8 Agustus 1997, mereka mengusung genre Alternative Rock. Pada awalnya, lagu “Tak Ingin” masuk dalam program “Indie Tujuh” di Radio Ardan Bandung dan berhasil merajai tangga lagu.
Kemudian, kesuksesan ini membawa mereka ke album kompilasi Indie Ten yang dirilis Sony Music Indonesia pada 1998, bersama dengan band-band seperti Padi dan Cokelat. Hasilnya, album ini terjual di atas 100 ribu kopi, yang turut melambungkan nama Wong. Akhirnya, mereka merilis album perdana pada bulan Juni 1999.
9. Band-Band Lain di Skena Bawah Tanah
Selain nama-nama di atas, banyak band lain yang turut mewarnai skena alternatif dan indie di Jakarta dan Bandung. Di antaranya adalah:
-
Toilet Sound: Band asal Jakarta dengan genre grunge dan alternatif.
-
Pestol Aer: Band punk yang lahir dari komunitas Young Offender di Jakarta.
-
Waiting Room: Band asal Jakarta dengan lagu “Ruang Tunggu” yang menjadi salah satu klasik dalam album kompilasi Masa Indah Banget Sekali Pisan.
-
Turtles Jr., Rotten to the Core, Full of Hate: Band-band yang juga menjadi bagian dari album kompilasi ikonik tersebut, yang merangkum gairah musik bawah tanah Bandung pada 1997.
-
Dewa 19 dan Padi: Meskipun lebih pop, kedua band ini juga mengadopsi elemen-elemen rock alternatif dalam karya-karya mereka di paruh akhir dekade 90-an.
Penutup: Warisan yang Tak Luntur
Secara keseluruhan, skena musik underground dan indie di era 90-an hidup dengan sangat dinamis, dengan Bandung dan Jakarta sebagai pusatnya. Sebagai contoh, tempat-tempat seperti GOR Saparua di Bandung dan Poste Cafe di Jakarta menyaksikan langsung bagaimana band-band ini menunjukkan karya dan membangun komunitas.
Terlebih lagi, era 90-an menjadi masa keemasan bagi eksplorasi musik di Indonesia. Pasalnya, band-band alternatif saat itu tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga membawa sebuah ideologi: musik bisa dibuat secara independen, jujur, dan tanpa harus tunduk sepenuhnya pada selera pasar. Oleh karena itu, semangat inilah yang terus menginspirasi generasi musisi hingga saat ini.
Kesimpulannya, meskipun waktu terus bergulir, karya-karya mereka tetap abadi dan menjadi soundtrack bagi mereka yang tumbuh di era penuh perubahan itu. Bahkan, gerakan indie yang mereka rintis menjadi fondasi bagi perkembangan musik alternatif Indonesia hingga sekarang.
![]()
R90salternative Rock Gates From 60s to 90s