Breaking News

Sex Pistols: Kisah Singkat Band Punk yang Mengguncang Dunia

Sex Pistols

Meskipun hanya eksis selama dua setengah tahun, Sex Pistols telah mengubah wajah musik populer selamanya. Mereka memicu gerakan punk di Inggris dan menginspirasi banyak musisi punk, post-punk, dan rock alternatif setelahnya.

Awal Mula: The Strand dan Pengaruh Malcolm McLaren

Kisah Sex Pistols bermula pada tahun 1972 di London, ketika dua remaja, Steve Jones dan Paul Cook, memutuskan membentuk sebuah band bersama teman mereka Wally Nightingale. Mereka menamai diri mereka The Strand (atau The Swankers). Jones menjadi vokalis, Cook bermain drum, dan Nightingale memainkan gitar. Jones mencuri sebagian besar instrumen yang mereka gunakan.

Pada tahun 1974, Glen Matlock bergabung sebagai basis. Matlock bekerja di toko pakaian milik Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood di King’s Road, Chelsea. Toko ini berganti nama menjadi “SEX” dan menjadi pusat berkumpulnya anak-anak muda dengan gaya dan pandangan anti-kemapanan. Jones dan Cook sering nongkrong di sana dan terus mendesak McLaren agar mau menjadi manajer mereka. McLaren akhirnya menyetujui permintaan mereka pada tahun 1975.

McLaren kemudian mengusir Nightingale dan memindahkan Jones ke gitar utama. Mereka mencari vokalis baru dan menemukan John Lydon, seorang pemuda berambut hijau yang memakai kaos bertuliskan “I HATE Pink Floyd.” Mereka mengundang Lydon untuk audisi dan langsung menerimanya. Jones bercanda memberinya nama panggung “Johnny Rotten” (Johnny Busuk) karena kondisi giginya yang buruk. Mereka mengganti nama band menjadi Sex Pistols, terinspirasi dari slogan provokatif yang mereka jual di toko McLaren.

Kebangkitan dan Kontroversi

Sex Pistols menggelar penampilan pertama mereka pada November 1975 di Saint Martin’s College of Art, London. Energi mereka yang keras dan kasar dengan cepat menarik perhatian banyak orang. Mereka merilis single debut, “Anarchy in the UK,” pada November 1976 di bawah label EMI. Lagu ini menjadi seruan perlawanan terhadap kemapanan.

Kontroversi memuncak pada Desember 1976, saat mereka tampil di acara TV Today. Pembawa acara, Bill Grundy, memprovokasi mereka untuk mengucapkan kata-kata kasar secara langsung di siaran televisi. Insiden ini menghebohkan media. Banyak pihak membatalkan konser mereka, dan EMI memutuskan kontrak mereka pada Januari 1977.

Sid Vicious Menggantikan Glen Matlock dan Puncak Ketenaran

Sid Vicious Menggantikan Glen Matlock dan Puncak Ketenaran

Pada Februari 1977, Glen Matlock meninggalkan band dan Sid Vicious (John Simon Ritchie) menggantikannya. Sid merupakan penggemar berat Sex Pistols yang lebih dikenal karena penampilannya yang liar dan destruktif daripada kemampuan bermusiknya.

Band ini sempat menandatangani kontrak dengan A&M Records, tetapi mereka memecat Sex Pistols hanya 10 hari kemudian. Sex Pistols akhirnya bergabung dengan Virgin Records dan merilis single kontroversial kedua, “God Save the Queen,” pada Mei 1977, bertepatan dengan perayaan Yubileum Perak Ratu Elizabeth II. Lagu ini menggambarkan monarki sebagai “rezim fasis,” sehingga BBC dan banyak stasiun radio independen melarang pemutarannya. Meskipun demikian, lagu ini berhasil mencapai posisi nomor 2 di tangga lagu Inggris. Liriknya yang provokatif dan sampulnya yang menampilkan Ratu dengan peniti di hidung menjadikannya salah satu rekaman paling kontroversial dalam sejarah Inggris.

Pada bulan Oktober 1977, mereka merilis satu-satunya album studio mereka, Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols. Album ini langsung melonjak ke posisi nomor satu di tangga lagu Inggris dan dianggap sebagai salah satu album terpenting dalam sejarah rock.

Kehancuran: Tur AS dan Kematian Sid Vicious

Pada Januari 1978, Sex Pistols memulai tur di Amerika Serikat. Tur ini berlangsung kacau. Hubungan antar anggota memburuk, dan kecanduan heroin Sid Vicious semakin parah. Pada pertunjukan terakhir mereka di Winterland Ballroom, San Francisco, 14 Januari 1978, Johnny Rotten naik ke panggung dan bertanya kepada penonton, “Pernahkah kalian merasa ditipu?” Ia kemudian mengumumkan pembubaran band dan keluar dari panggung.

Setelah perpecahan, McLaren mencoba melanjutkan band dengan merekrut vokalis baru dan merilis film tentang mereka, The Great Rock ‘n’ Roll Swindle. Sementara itu, pihak berwenang menangkap Sid Vicious karena diduga membunuh pacarnya, Nancy Spungen. Petugas menemukan mayat Nancy di kamar hotel mereka di New York pada Oktober 1978. Pada Februari 1979, sebelum sidang dimulai, Sid Vicious meninggal karena overdosis heroin di usia 21 tahun.

Reuni dan Warisan Abadi

Setelah bertahun-tahun berseteru dengan McLaren, anggota band yang tersisa mendapatkan kembali kendali atas aset Sex Pistols pada tahun 1986. Pada tahun 1996, formasi asli (Rotten, Jones, Cook, dan Matlock) menggelar tur reuni “Filthy Lucre” yang sukses secara internasional. Mereka juga mengadakan pertunjukan dan tur reuni lainnya pada tahun 2002–2003 dan 2007–2008.

Pada tahun 2006, Rock and Roll Hall of Fame melantik Sex Pistols, tetapi mereka menolak hadir dan menyebut museum itu sebagai “noda kencing.” Hingga saat ini, pengaruh mereka tetap besar. Mereka tidak hanya mengubah musik, tetapi juga memicu gelombang band-band baru dan gerakan budaya “lakukan sendiri” (DIY) yang terus menginspirasi hingga kini.

Loading

Share on social media

About r90s

musik Alternatif dari pinggiran. Bikin musik untuk yang suka jujur, tidak berteriak, tapi mengena.
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x